Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 11 Januari 2010

MAKALAH KONSEP HUBUNGAN MANUSIA DAN KOMUNIKASI

MAKALAH

KONSEP HUBUNGAN MANUSIA DAN KOMUNIKASI

Makalah Ini Di Ajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Mata Kuliah Komunikasi Umum



















Disusun oleh :

Ujang Rajif Saroji


PROGRAM STUDY ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

YPIB MAJALENGKA

2009

KATA PENGANTAR

Bismilahirrahmanirrahim...

Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarokatuh...

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah swt yang telah memberikan karunia serta rahmatnya kepadsa kita semua sehingga kita masih diberi kepercyaan untuk masih bisa meniti kehidupan yang sementara ini.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurahlimpahkan kepada junjungan kita semua baginda nabi besar muhammad Saw. Yang telah berjuang membawa puji Allah untk menebarkan rahmatan lila’lamin. Amin...

Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”KONSEP HUBUNGAN ANTAR MANUSIA DAN KOMUNIKASI” dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah Komunikasi Umum.

Tersusunnya makalah ini tidak lepasa dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini perkenankanlah kami untuk mengucapkan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada

  1. Yth. Ade Surya Wirawan,Msi selaku dosen pembimbing.
  2. orang tua yang tak henti hentinya mendukung kami.
  3. rekan – rekan seperjuangan yang telah membantu kami.

Kami menyadari bahwa makalah in masih jauh dari kata senpurna. Karena itu sumbangan saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan dari semua pihak demi kemajuan makalah selanjutnya.

Akhirnya penulis harapkan semoga makalah ini dapat beranfaat bagi semua pembaca umumnya dan khususnya bagi kam sendiri.

Wallahu muafiq ila aqwamitthoriq

Wassalamu a’laikum warahmtullahi wabarakatuh...

Majalengka, 01 desember 2009

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II KAJIAN TEORITIK

HUBUNGAN ANTAR MANUSIA DAN KOMUNIKASI

  1. PENGERTIAN DAN PROSES TERJADINYA HUBUNGAN ANTAR MANUSIA DAN KOMUNIKASI
  1. Pengertian

a. HAM (Hubungan Antar Manusia )

b. KOM (Komunikasi)

  1. Teori HAM dan KOM antar perawat, dokter, pasien dan keluarga pasien.
  2. HAM dan KOM Interpersonal.
  3. HAM dan KOM antar kelompok
  4. Aplikasi Ilmu HAM dan KOM terhadap perawat / keperawatan.
  1. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PADA HAM YANG BAIK
  2. PERANAN KOMUNIKASI DALAM MENINGKATKAN MUTU ASUHAN KEPERAWATAN

BAB III PENUTUP

  1. KESIMPULAN
  2. SARAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Hubungan antar manusia ( HAM ) atau human relation sangat erat kaitannya dengan komunikasi dan merupakan hal yang sangat pentin dalam kehidupan sehari-hari.

HAM mempunyai kedudukan berarti, baik bagi suatu organisasi masyarakat mapun individu yang berada dilingkungan komunikasi.

Kedudukan HAM mempunyai pengaruh untuk terbinanya hubungan yang baik dan harmonis antara organisasi dan khalayak.

Individu dalam hal ini perawat, tentunya harus memahami dan mengaplikasikan teori tentang HAM dan komunikasi ini secara baik agar proses pelayanan kesehatan yang akan menunjang kegiatan profesinya. Sehngga kegiatan pelayann tesebut berjalan dengan baik dan harmonis.

B. TUJUAN

Selain untuk memenuhi dan melengkapi salah satu tugas mata kuliah komunikasi umum, pembuatan makalah ini juga bertujuan untuk

  1. dapat memahami dan mengerti apa yag dimaksud Hubungan Antar Manusia ( HAM ) dan komunikasi.
  2. memahami dan mengaplikasikan teori Hubungan Antar Manusia ( HAM ) dan Komunikasi khususnya dilingkungan kesehatan, antar perawat,dokter,pasien dan keluarga pasien.
  3. mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi pada Hubungan Antar Manusia (HAM) yang baik.

C. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup makalah ini hanya tentang pengertian Hubungan Antar Manusia (HAM) dan Komunikasi. Serta proses terjadinya Hubungan Antar Manusia (HAM) dan faktor – faktor yang mempengaruhi Hubungan Antar Manusia (HAM) yamg baik.

D. METODE PEMBAHASAN

Metode pembahasan yang digunakan oleh penulis dalam menyusun makalah in adalah deskriptif yaitu menggambarkan bagaimana yang terjadi dalam hubungan masyarakat dan komunikasi, baik itu pengertian, proses HAM, dan Faktor – faktor dalam HAM. Penulis juga menggunakan study literature yaitu perbandingan dari beberapa sumber buku.

  1. SISTEMATIKA PENULISAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II KAJIAN TEORITIK

BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

BAB II

KAJIAN TEORITIK

HUBUNGAN ANTAR MANUSIA DAN KOMUNIKASI

  1. PENGERTIAN DAN PROSES TERJADINYA HUBUNGAN ANTAR MANUSIA (HAM) DAN KOMUNIKASI

1. PENGERTIAN - PENGERTIAN

  1. pengertian Hubungan Antar Manusia (HAM) dan komnikasi

HAM atau Human Relation disini tentunya membicarakan situasi sosial, interaksi individu-individu yang termasuk digolongan masyarakat.

Hubungan Antar Manusia (HAM) dalam arti luas adalah komunikasi persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam situasi dan dalam semua bidang kehidupan, sehigga menimbulkan kebahagiaan.

HAM dan kepuasan hati pada kedua pihak dilakukan dimana saja. HAM dalam arti sempit adalah komunikasi persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam keadaan kerja ( work situation ) dan dalam organisasi kekaryaan work organization dengan tujuan untuk menggugah kegairahan dan kegiatan bekerja dengan semangat kerjasama yang produktif dengan perasaan bahagia dan puas.

Model interdependensi antar dua orang dikembangkan oleh Levinger dan snoeck ( 1972).

  1. pengertian komunikasi

Arti à Usaha menumbuhkan response melalui lambang – lambang verbal ketika lambang – lambang verbal tersebut sebagai stimulasi komunikasi yang baik yaitu syarat dengan komunikasi untra personal ( komunikasi diantara dua individu dibatasi pada komunikasi manusiawi ).

Kriteria komunikasi yang aktif akan menimbulkan

ü Pengertian

ü Kesenangan

ü Pengaruh pada sikap

ü Hubungan yang makin baik

ü Tindakan

Faktor- faktor yang mempengaruhi komunikasi

à Tahap paling awal dalam penerimaanm nformasi adalaha sensasi = pengertian

à Tahap berikutnya dalam suatu komunikasi adalah persepsi.

à Tahap perhatian / attention membantu terjadinya komunikasi dan penerimaan informasi.

à Bahasa pesan dan penerimaan pesan.

Alur transaksional dapat digambarkan sebagai berikut.

Keterangan

E = encording ( menyampaikan Pesan )

D = decording ( menerima Pesan )

Analisis proses interaksi

    1. ada frekuensi interaksi yang kerap untuk waktu yang relatif panjang
    2. hubungan yang erat melibatkan bermacam - macam bentuk kegiatan atay peristiwa.
    3. saling pengaruh yang kuat mewarnai hubungan kedua orang tersebut.

Selanjutnya dua orang yang mempunyai interpendensi yang kuat memiliki potensi untuk saling membangkitkan emosi yang kuat pula. Persahabatan meerupakan sumber perasaan – perasaan positif seperti cinta, kasih sayang dsan perthatia.

Akan tetapi di akui juga bahwa emosi yang kuat seperti amarah, cemburu dan putus asa sering kali muncul dalam hubungan yang erat.

KOMUNIKASI






Text Box: o	Berposisi pasif –maktif o	Berusaha terbuka  o	Memiliki perasaan komunikator o	Mendengar dengan penuh perhatian  o	Hubungan intra personal  o	Berbahasa dengan baik
Text Box: o	Menilai dengan jujur o	Mengembangkan penyerahan diri o	Berkepribadian  o	Daya tarik fisik



Text Box: ü	Memberi informasi  ü	Memberi nasihat  ü	Memberi bujukan  ü	Menggerakkan contoh ü	Memberi pertanyaan secara langsung

2. TEORI HAM DAN KOMUNIKASI ANTAR PERAWAT , DOKTER PASIEN DAN KELUARGA PASIEN.

Gambar diatas menunjukan jalur komunikasi dan HAM antara inter perawat dokter dan pasien. Warna hubungan ini harus dilandasi dengan perubahan mental dari komunikasi dan HAM tersebut dari kurang intensf menjadi intensif dalam konteks proses keperawatan dan perilaku manusia. Pada perawat sudah dilegkapi etik sehinga dalam HAM – KOM terhadap pasien dan dokter syarat dengan etika moral, disiplin dan bertanggung jawab. Pendkatan fase to fase relation ship perlu dilakkan dalam HAM dan KOM.

3.HAM DAN KOM INTERPERSONAL

a. HAM dan KOM yang begrhubungan dengan persepsi obyej / manusia.

S à reseptor indra à otak pusat Kom / bahasa à Efektor motor à HAM dan KOM interpersonal.

b. sifat objek dipersepsikan

c. Memberikan reaksi emosional pada obyek.

d. obyek atau manusia dalam hal ini terus berubah.

HAM dan KOM interpersonal ini banyak diwarnai oleh sikap, minat, kepribadian dan perasaan srta kecakapan seseorang.

Di dalam HAM dan KOM interpersonal penafsiran terhadap nilai perlu.

Faktor yang mrnumbuhkan HAM dan KOM interpersonal antara lain

Ø Percaya

Ø Empaty

Ø Kejujuran

Ø Sportif

Ø Terbuka

4. HAM DAN KOMUNIKASI KELOMPOK

Berbalik arah dengan hubungan interpersonal titik berat pemikiran ada pada kelompok manusia bukan individu terhadap individu ( orang berkumpul 1-2 orang ) pengaruh kelompok HAM dan KOM.

Model – model kelompok seperti ( out, group, frimer dan sebagainya ) akan memberikan warna kepada HAM dan KOM sistem Komunikasi kelompok konfirmasi dan polarisasi.

5. APLIKASI ILMU HAM DAN KOMUNIKASI TERHADAP KEPERAWATAN

a. HAM dan KOM yang telah dipelajari olej perawat akan menambah wawasan. Relasi, komunikasi, interaksi, dan HAM bagi perawat.

b. dalam melaksanakan aplikasi teori asuhan keperwatan, HAM Dan KOM ini dapat dijadikan jembatan untuk lebih memahami pasien.

c. pergaulan inter antar perawat dengan dokter, pasien dan keluarga.

  1. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HAM YANG BAIK

Faktor yang mempengaruhi HAM yang Baik adalah faktor manusia itu sendiri. Masalah human relation itu senndiri yaitu proses rohaniah yang menyangkut watak, sifat, perangai, kepribadian , sikap dan tingakah laku menuju suatu kebahagiaan atau kepuasan hati.

Unsur – unsur tersebut adalah

1. Kebutuhan

2. Motivasi

3. Aktifitas

4. Tujuan

Hal diatas merupakan faktor yang akan mempengaruhi HAM, sedangkan faktor eksternal HAM adalah bagaimana individu atau manusia itu berinteraksi, bersosialisasi dan berkomuniksai dengan baik.

  1. PERANAN KOMUNIKASI DALAM MENINGKATKAN MUTU ASUHAN KEPERAWATAN

Komunikasi merupakam suatu dasar dan kunci seseorang teruama perwawat dalam menjalankan tugas- tugasnya. Komunikasi merupakan suatu proses dalam perawatan untuk menjalankan danmenciptakan hubungan antara perawat dengan klien.

Komunikaski juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengadakan perubahan – perubahan pada klien. Tanpa komunikasi seseorang akan terasing tanpa komunikasi perawat tidak akan dapat memenuhi kebutuhan klien.

Komunikasi adalah suatu interaksi dan transaksi yang digunakan oleh manusia dalam menerima dan memberi pesan.

  1. Proses komunikasi
    1. adanya pesan yang harus disampaikan
    2. adanya pemberi pesan
    3. adanya penerima pesan
    4. feed back
    5. media / sarana

  1. macam – macamm komunikasi
  1. komunikasi searah
  2. komunikasi dua arah
  3. komunikasi berantai

  1. faktor – faktor yang mempengaruhi komunikasi
  1. pemberi pesan

ü tergantung jelas tidaknya suara

ü tergantung situasi pemberi pesan

ü tergantung kemempuan memberi pesan

  1. penerima pesan

ketidakmampuan si penerima dalam mendengar

kemampuan pengertian terhadap arti dan pesan

tidak adanya perhatian terhadap komunikator ataupun pesan itu sendiri

Menurut Travel bee ada tujuh faktor yang kan mempengaruhi proses komunkasi. Antara lain

    1. Persepsi , perasaan, pikiran dari komunikator dan komunikan pada waktu pross komunikasi berlangsung.
    2. Adanya hubungan antara komunikator dan komunikan.
    3. Isi dari pesan.
    4. Kesungguhan komunikator dalam menyampaikan pesan.
    5. Stuasi lingkungan.
    6. Cara pesan itu dismpaikan.
    7. Hasil terhadap komunikan.
  1. teknik komunikasi therapeutik

komunikasi dalam keperawatan dapat digolongksn secara luas bagi therapeutik atau mengandung nilai pengobatan dan tidak therapeutik.

Komunikasi therapeutik memudahkan pembentukan hubungan kerja antara perawat dengan kliendan memenuhi tujuan proses keperawatan.

Bila komunikasi therapeuti digunakan maka perencanaan, pelaksanaan akan penilaian dilakukan dengan klien.

Komunikasi yang tidak therapeutik adalah kebalikan dan menghambat pembentukan hubungan. Ini mencegah klien menjadi kawan dalam hubungan dan menurunkan klien.

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

HAM atau Human Relation disini tentunya membicarakan situasi sosial, interaksi individu-individu yang termasuk digolongan masyarakat.

Hubungan Antar Manusia (HAM) dalam arti luas adalah komunikasi persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam situasi dan dalam semua bidang kehidupan, sehigga menimbulkan kebahagiaan

Komunikasi merupakan Usaha menumbuhkan response melalui lambang – lambang verbal ketika lambang – lambang verbal tersebut sebagai stimulasi komunikasi yang baik yaitu syarat dengan komunikasi untra personal ( komunikasi diantara dua individu dibatasi pada komunikasi manusiawi ).

Faktor yang mempengaruhi HAM yang Baik adalah faktor manusia itu sendiri. Masalah human relation itu senndiri yaitu proses rohaniah yang menyangkut watak, sifat, perangai, kepribadian , sikap dan tingakah laku menuju suatu kebahagiaan atau kepuasan hati.

Unsur – Unsur Tersebut Adalah

    1. Kebutuhan
    2. Motivasi
    3. Aktifitas
    4. Tujuan

Komunikasi adalah suatu interaksi dan transaksi yang digunakan oleh manusia dalam menerima dan memberi pesan.

Proses Komunikasi

    1. adanya pesan yang harus disampaikan
    2. adanya pemberi pesan
    3. adanya penerima pesan
    4. feed back
    5. media / sarana

Macam – Macamm Komunikasi

    1. komunikasi searah
    2. komunikasi dua arah
    3. komunikasi berantai

faktor – faktor yang mempengaruhi komunikasi

    1. pemberi pesan

ü tergantung jelas tidaknya suara

ü tergantung situasi pemberi pesan

ü tergantung kemempuan memberi pesan

    1. penerima pesan

a. ketidakmampuan si penerima dalam mendengar

b.kemampuan pengertian terhadap arti dan pesan

c. tidak adanya perhatian terhadap komunikator ataupun pesan itu sendiri

B.SARAN

DAFTAR PUSTAKA

Gallatin, yudith E. Adolescence and individuality A conceptual Aproach to adolescent psychology, 1975

Warga, Richard G. Personala Awareness. Boston. Haugthon miffu ncompany, 1976.

Verbeek Sj. Drs. Pengamatan. Yogyakarta, Kanisisus 1978.

Sheefer david R, Development Psicology. California Cole publishing company. 1985.

TEORI DAN MODEL KEPERAWATAN VIRGINIA HENDERSON

TEORI DAN MODEL KEPERAWATAN

VIRGINIA HENDERSON

Dibacakan pada kuliah umum mata kuliah Pengantar profesi keperawatan ( PPK )

OLEH:

Ujang Rajif Saroji

STIKes YPIB MAJALENGKA

2010

KATA PENGANTAR

Bismilahirrahmanirrahim...

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah- Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan makalah tentang “Teori dan Model KeperawatanVirginia Henderson ” ini dengan baik. Makalah ini dipergunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah ”Teori dan Model Konsep Keperawatan ” di STIKes YPIB majalengka.

Makalah ini terdiri dari 3 Bab:

Bab I membahas tentang latar belakang masalah, tujuan, dan sistematika penulisan;

Bab II membahas tentang Teori dan Model Keperawatan Virgin Henderson, meliputi konsep utama teori, hubungan dengan konsep utama keperawatan, hubungan dengan konsep keperawatan, hubungan dengan ciri teori, serta penerapan Teori Virginia Henderson;

sedangkan Bab III membahas tentang kesimpulan dari Teori dan Model Keperawatan Virginia Henderson

Dalam penyusunan makalah ini saya menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Oleh karena itu saya sangat memerlukan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini menjadi lebih bermanfaat untuk para mahasiswa pada umumnya dan untuk teman sejawat perawat pada khususnya.

Majalengka, 1 Januari 2010

Penyusun,

DAFTAR ISI Hal

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

BABI : PENDAHULUAN

BAB II : TINJAUAN TEORITIS

A.Konsep Utama Teori dan Model Keperawatan Virginia Henderson

B. ubungan Teori Virginia Henderson dengan Konsep Utama Keperawatan

C. Hubungan Teori Virginia Henderson dengan Proses Keperawatan

D. Hubungan Teori Virginia Hendeson dengan Ciri Teori

E. enerapan Teori Virginia Henderson

BAB II : KESIMPULAN

DAFTAR KEPUSTAKAAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Konsep merupakan suatu ide di mana terdapat suatu kesan yang abstrak yang dapat diorganisir menjadi simbul - simbul yang nyata; sedangkan konsep keperawatan merupakan ide untuk menyusun suatu kerangka konseptual atau model keperawatan. Teori ini sendiri merupakan sekelompok konsep yang membentuk sebuah pola yang nyata atau suatu pernyataan yang menjelaskan suatu proses, peristiwa, atau kejadian yang didasari oleh fakta - fakta yang telah diobservasi, tetapi kurang absolut ( kurang adanya bukti ) secara langsung.

Teori keperawatan digunakan untuk menyusun suatu model konsep dalam keperawatan, sehingga model keperawatan tersebut mengandung arti aplikasi dari struktur keperawatan itu sendiri yang memungkinkan perawat untuk mengaplikasikan ilmu yang pernah di dapat di tempat mereka bekerja dalam batas kewenangan sebagai seorang perawat. Model konsep keperawatan ini diguna-kan dalam menentukan model praktek keperawatan yang akan diterapkan sesuai kondisi dan situasi tempat perawat tersebut bekerja. Mengingat dalam model praktek keperawatan mengandung komponen dasar seperti: adanya keyakinan dan nilai yang mendasari sebuah model, adanya tujuan praktek yang ingin dicapai dalam memberikan pelayanan ataupun asuhan keperawatan terhadap kebutuhan semua pasien, serta adanya pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan oleh perawat dalam mencapai tujuan yang ditetapkan sesuai kebutuhan pasien.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlunya mempelajari Teori dan Model Konsep Keperawatan yang telah ada sebagai salah satu kunci dalam mengembangkan ilmu dan praktek, serta profesi keperawatan di Indonesia. Pada kesempatan kali ini saya mencoba memaparkan “Teori dan Model Konsep Keperawatan Virginia Henderson”.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Agar mahasiswa mampu menghubungkan antara konsep / ilmu dengan segala pemikiran dan tingkah lakunya dalam merancang atau menyusun suatu rencana asuhan keperawatan yang dibutuhkan oleh pasien dan keluarga sesuai kasus secara teori dengan benar.

2. Tujuan Khusus

- Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar teori dan model keperawatan Virginia Henderson

- Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip umum teori dan model konsep keperawatan dari Virginia Henderson

- Mahasiswa mampu merancang /menyusun rencana asuhan keperawatan yang dibutuhkan oleh pasien dan keluarga sesuai kasus - kasus yang disajikan menggunakan pendekatan teori dan model keperawatan Virginia Henderson.

C. SISTEMATIKA PENULISAN

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Tujuan

C. Sistematika Penulisan

BAB II TEORI DAN MODEL KONSEP KEPERAWATAN VIRGINIA HENDERSON

A. Konsep Utama Teori

B. Hubungan dengan Konsep Utama Keperawatan

C. Hubungan dengan Proses Keperawatan

D. Hubungan dengan Ciri Teori

E. Penerapan Teori Virginia Henderson

BAB III KESIMPULAN

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Utama Teori dan Model Keperawatan Virginia Henderson

Perkembangan definisi keperawatan yang dikembangkan oleh Virginia Henderson didasari oleh 2 (dua) hal, yaitu :

1. Sering ikut serta di dalam merevisi buku-buku keperawatan

2. Ditemukannya kasus tentang tidak adanya izin yang memenuhi syarat untuk memberikan kenyamanan dalam bentuk pelayanan / asuhan keperawatan yang berkompeten bagi konsumen di beberapa negara.

Henderson meyakini bahwa seharusnya sebuah teks yang menjadi sumber bagi praktek keperawatan juga menggambarkan tentang definisi keperawatan. Selanjutnya prinsip-prinsip dan praktek keperawata harus dibangun atas dasar kaidah-kaidah keprofesian, serta berasal dari definisi profesi keperawatan itu sendiri.

Henderson melakukan suatu proses untuk mengatur praktek keperawatan melalui proses perizinan dari setiap negara. Untuk menyempurnakan hal tersebut dia yakin bahwa keperawatan secara eksplisit harus didefinisikan dalam artian sebagai “tindakan dari para perawat”. Tindakan - tindakan tersebut digaris bawahi dengan parameter legal dari fungsi perawat dalam merawat klien / pasien dan memberikan perlindunga bagi masyarakat umum dari praktek-praktek yang tidak berkompeten, ataupun tidak sempurna. Pernyataan – pernyataan dari pihak yang berwenang tentang fungsi keperawatan pada tahun 1932 dan 1937 telah dipublikasikan oleh Asosiasi Perawat Amerika (ANA / American Nurse Association), namun menurut Henderson pernyataan-pernyataan tersebut belum spesifik dan tidak memuaskan; sehingga pada tahun 1955 munculah definisi tentang profesi keperawatan dari ANA sebagai berikut :

“ Profesi keperawatan diartikan sebagai suatu tindakan untuk melengkapi beberapa tindakan dari tim kesehatan, antara lain: dalam mengobservasi, melakukan perawatan, memberikan nasehat/anjuran bagi yang sakit, terluka atau yang lemah, mencegah dari tertularnya penyakit lain, serta membantu dalam pemeliharaan status kesehatannya. Disamping itu profesi ini juga bertugas membina dan membimbing petugas lainnya, termasuk dalam pemberian pengobatan kepada pasien (sebagai tugas kolaboratif/limpahan). Oleh karena itu dalam bekerja diperlukan keahlian khusus yang termasuk di dalamnya adalah ilmu biologi, fisika, dan ilmu sosial; serta aplikasinya yang juga perlu digali lebih dalam untuk menambah wawasan dalam menegakan diagnosa keperawatan atau membantu dalam pemberian terapi atau ukuran-ukuran lain yang perlu koreksi”.

Pernyataan tersebut di atas dipandang sebagai sebuah pernyataan tambahan saja, karena fungsifungsi keperawatan teridentifikasi, tetapi definisinya masih sangat umum dan kurang jelas. Dalam pernyataan yang baru, perawat bisa mengamati, merawat, dan memberikan nasehat / anjuran bagi pasien dan bisa membina pegawai lain tanpa dibina oleh dokter, tetapi dilarang untuk mendiagnosa, memberikan resep, atau mengoreksi masalah keperawatan. Pada tahun 1995, definisi keperawatan yang pertama dari Henderson dipublikasikan dalam revisi buku keperawatan Bertha Harmer, sebagai berikut:

“Keperawatan yang utamanya adalah membantu individu baik sakit ataupun sehat dengan tindakan - tindakan yang memberikan kontribusi bagi kesehatan atau kesembuhan, atau bahkan suatu kematian Yang didorong dengan kekuatan, keinginan, dan pengetahuan. Keperawatan merupakan kontribusi yang bersifat unik untuk membantu individu agar mandiri dengan memberikan bantuan seperlunya.”.

Fokus Henderson terhadap perawatan individu lebih ditekankan pada komponen-komponen dalam keperawatan, sebagai berikut:

1. Bernafas secara normal

2. Tercukupinya kebutuhan makan dan minum

3. Mengurangi zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh

4. Mengubah dan memelihara bentuk tubuh yang diinginkan

5. Tercukupinya kebutuhan tidur dan istirahat

6. Memilih pakaian yang tepat/sesuai

7. Menjaga suhu tubuh dalam rentang yang normal dengan menyesuaikan pakaian dan memodifikasi terhadap kondisi lingkungan

8. Menjaga kebersihan tubuh dan kerapihan

9.Menghindari bahaya terhadap kondisi lingkungan dan menghindari jatuhnya korban lain

10.Berkomunikasi dengan orang lain untuk menyalurkan emosi, kebutuhan, ketakutan, dan berpendapat

11.Beribadah sesuai dengan satu kepercayaan

12.Bekerja dengan semangat untuk mencapai keberhasilan

13.Berperan atau berpartisipasi dalam berbagai bentuk rekreasi

14.Belajar menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia untuk menemukan atau memuaskan rasa ingin tahu yang akan membantu meningkatkan kondisi kesehatan.

Pada tahun 1966, Henderson menyatakan pendapatnya mengenai definisi keperawatan yang dipublikasikan oleh “The Nature of Nursing”, dan pendapatnya tersebut dipandang sebagai kristalisasi dari ide-idenya, yaitu sebagai berikut:

“Fungsi unik perawat adalah membantu individu baik sehat, maupun sakit dengan tindakantindakan yang memberikan kontribusi bagi kesehatan atau penyembuhan, atau untuk memperoleh kematian dengan damai, dan harus dilakukannya tanpa bantuan, sehingga sangat membutuhkan kekuatan, kemauan, serta pengetahuan. Untuk dapat melakukan hal tersebut, maka dapat dilakukan berbagai cara agar dapat mempercepat kemandirian pasien sesegera mungkin”.

Situasi yang ideal bagi seorang perawat adalah berpartisipasi penuh dalam bekerja secara tim dengan kelompoknya tanpa campur tangan pihak lain, dan mendayagunakan kekuatan fisik yang dimiliki, keinginan, serta pengetahuannya untuk mencapai deraja kesehatan secara optimal.

Pada kenyataannya saat itu tugas-tugas perawat sangat dibatasi, peran profesinya juga dalam pembatasan, serta kebutuhan untuk memberikan prioritas keperawatan yang unik sesuai kondisi.

Bagaimanapun Henderson menganjurkan kepada perawat, agar berperan-serta aktif dalam menunjukan fungsi-fungsinya terhadap tenaga kesehatan lainnya yang mungkin peran tersebut dapat membantu dan meningkatkan keahliannya. Didasari oleh berbagai keadaan secara luas, fungsi keperawatan tersebut akan berbeda antara daerah yang satu dengan daerah lainnya, walaupun berada dalam satu negara. Jumlah perawat, dokter dan tenaga kesehatan lainnya akan berpengaruh terhadap apa yang akan dilakukan oleh perawat. Konsekuensinya, hal ini akan menimbulkan kebingungan terhadap berbagai peran perawat, terutama sejak adanya praktek keperawatan.

B. Hubungan Teori Virginia Henderson dengan Konsep Utama Keperawatan

Henderson dalam memandang konsep manusia atau individu, selalu mempertimbangkan komponen biologi, mental / kejiwaan, sosiologi, dan spiritual. Ada 14 (empat belas) komponen dasar yang selalu mengacu pada kebutuhan dasar manusia tersebut bermanfaat dalam memanfaatkan fungsi keperawatan, dan dikategorikan sebagai berikut:

- Sembilan komponen pertama adalah komponen fisik

- Ke sepuluh dan ke empat belas merupakan aspek kejiwaan mengenai komunikasi

- Ke sebelas adalah spiritual dan moral

- Ke dua belas dan tiga belas adalah komponen sosiologi yang berorientasi pada kegiatan dan rekreasi.

Henderson juga meyakini bahwa antara pikiran dan tubuh tidak dapat dipisahkan, keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat; disamping itu Henderson menekankan beberapa aspek tentang konsep masyarakat / lingkungan yang dihubungkan dengan masalah individu. Dia membahas lebih rinci hubungan antara individu dengan keluarganya, tetapi kurang membahas pengaruh masyarakat terhadap hubungan antara individu dengan keluarganya.

Dalam bukunya yang ditulis bersama Harmer, dia memberikan dukungan terhadap agen swasta dan pemerintah yang telah memberikan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Dia yakin bahwa masyarakat berharap untuk mendapatkan pelayanan keperawatan, terutama terhadap individu yang tidak mampu melakukan apapun secara mandiri. Pada gilirannya dia berharap masyarakat dapat berkontribusi terhadap perkembangan pendidikan keperawatan.

Perawat membutuhkan berbagai macam pendidikan yang di dalam masyarakat kita hanya tersedia di lembaga atau universitas. Kurangnya dana yang tersedia dari anggaran agen pelayanan kesehatan terhadap program pelatihan perawatan, sehingga menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan perawat. Pendidikan perawat yang ada bersifat general yang akan memberikan pemahaman bagi perawat mengenai bagaimana keperawatan itu, serta bagaimana juga faktor- faktor lingkungan mempengaruhi individu dalam kehidupannya. Henderson meyakini bahwa kesehatan berhubungan erat dengan fungsi manusia; oleh karena itu definisi kesehatan didasarkan pada kemampuan individu untuk berfungsi secara independen sebagaimama yang disebutkan pada 14 komponen di atas. Dia juga cenderung menekankan agar perawat dalam bertugas selalu berusaha mendorong menjaga kesehatannya dan melindungi diri dari penyakit.

Henderson menjelaskan bagaimana faktor umur, latar belakang budaya, kapasitas fisik dan intelektual, serta keseimbangan emosi dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Kondisi tersebut selalu muncul dan mempengaruhi kebutuhan-kebutuhan dasar manusia.

Dia merupakan satu-satunya orang yang pertama kali meyakini bahwa perawat membutuhkan suatu bentuk pendidikan liberal termasuk ilmu pengetahuan, ilmu sosial, dan kemanusiaan. Berdasarkan definisi keperawatan, dan 14 komponen dasar keperawatan di atas, perawat diharapkan mampu melakukan rencana terapi fisik. Perawatan terhadap individu merupakan hasil kreativitas dari perawat dalam melakukan perencanaan keperawatan. Selain itu perawat juga diharapkan dapat meningkatkan kinerja keperawatannya terhadap pasien dengan menggunakan hasil dari penelitian keperawatan yang telah ada. Bagi Henderson perawat harus memiliki pengetahuan, memiliki dasardasar untuk melakukan perawatan terhadap individu atau manusia, dan mampu memecahkan berbagai permasalahan ilmiah.

C. Hubungan Teori Virginia Henderson dengan Proses Keperawatan

Henderson memandang proses keperawatan sebagai “sebuah aplikasi nyata dari pendekatan logis untuk menyelesaikan suatu masalah”. Dengan pendekatan ini setiap orang dapat menerima perawatan secara individu, dan proses keperawatan ini akan menghasilkan keperawatan terhadap individu.

Dalam beberapa tulisannya yang baru, Henderson juga memunculkan beberapa isu, menanyakan apakah pendekatan problem solving / penyelesaia masalah merupakan hal istimewa dalam keperawatan. Hal tersebut diuraikan sebagai berikut:

Dia membandingkan proses perawatan dengan tahap tradisional dari proses terapi medis, seBab sejarah keperawatan adalah paralel dengan sejarah medis: prediksi kesehatan oleh perawat dengan pemeriksaan medis, diagnosa keperawatan yang dihubungkan dengan diagnosa medis, dan apakah masalah administrasi dalam keperawatan juga sesuai dengan praktek medis ?. Jika begitu, kemudian apa sebenarnya yang membuat proses keperawatan merupakan hal yang istimewa dalam keperawatan ?.

Berhubungan dengan mengatasi masalah: apakah pemecahan masalah selalu ada dalam keperawatan ?. Henderson menyatakan, bahwa yang membuatnya begitu spesifik adalah aktivitasnya dalam langkah pemecahan masalah tidak dapat diistimewakan sebagai ciri dari keperawatan. Dia menanyakan dimanakah intuisi, pengalaman, kewenangan, dan keahlian dalam proses keperawatan ?. Dia kemudian memberikan komentar, bahwa keahlian dan ke-wenangan yang dampaknya tidak dipercaya lagi sebagai dasar dalam praktik keperawatan. Apakah hal ini akan

membuat proses keperawatan menjadi sangat terbatas dalam kenyataan pemanfaatannya.

Pendekatan pemecahan masalah. Henderson mempertanyakan dimana seni keperawatan yang sesuai dengan proses keperawatan. Jika suatu pandangan ilmiah bersifat obyektif dengan hal yang tidak teridentifikasi, dan seni bersifat subyaktif yang sulit didefinisikan, kemudian intuisi apakah yang sesuai ?. Dia juga menyatakan, bahwa proses perawatan saat ini sangat memerlukan sisi ilmiah, intuisi, dan artitis dari kinerja perawat; akan tetapi kenyataan yang ada saat itu perawatan lebih ditekankan pada ilmu keperwatan dari pada gabungan antara ilmu dan seni di mana akan terlihat lebih efektif dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan b erbagai dasar keperawatan.

Apakah proses perawatan tidak mempedulikan sisi subyektif dan kualitas intuisi yang digunakan dalam keperawatan ?.

Proses perawatan yang berhubungan dengan kurangnya kolaborasi dari tenaga kesehatan, pasien dan keluarga. Henderson menyatakan, bahwa sebagaimana telah didefinisikan di atas proses perawatan tidak melihat adanya pendekatan kolaborasi dari diagnosa, pelayanan keperawatan dari tenaga kesehatan, dan tidak juga memberikan fasilitas bagi pasien, serta keluarga jika mereka membutuhkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya. Henderson berfikir bahwa proses perawatan menekankan pada suatu fungsi independen perawat dari pada kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya, juga degan pasien, dan keluarganya. Apa- kah proses perawatan lebih berfokus pada fungsi independen perawat, dari pada fungsi interdependen ?.

Uraiannya terhadap Proses Perawatan, adalah sebagai berikut:

1. Pengkajian Keperawatan

Terdapat suatu masalah dalam proses perawatan. Penilaian nyata terhadap proses perawatan tergantung pada pemahaman seseorang, interpretasi, perpaduan, dan penggunaannya. Walaupun definisi dan penjelasan Henderson mengenai keperawatan tidak secara langsung sesuai dengan langkah - langkah dalam proses perawatan, tetapi terdapat hubungan antara kedua hal tersebut. Menurut Henderson, perawat harus memiliki pengetahuan mengenai apa yang disebut normal dalam kesehatan dan adanya penyakit. Berdasarkan pengetahuan ilmiah ini, perawat dapat mengambil kesimpulan dari data-data yang ada. Henderson menyatakan, bahwa, keperawatan dibutuhkan oleh individu yang dipengaruhi oleh usia, latar belakang budaya, keseimbangan emosional,dan kapasitas fisik, serta intelektualnya. Semua ini akan dipertimbangkan dalam mengevaluasi hasil perawatan yang dibutuhkan oleh pasien.

2. Diagnosa Keperawatan

Analisa data didasarkan pada faktor-faktor di atas, kemudian hasil analisa tersebut dipergunakan untuk menentukan diagnosa keperawatan.Henderson tidak secara spesifik membahas mengenai diagnosa keperawatan ini, dia lebih yakin dokterlah yang akan membuat diagnosa, dan perawat melakukan tindakan-tindakan atas dasr diagnosa tersebut. Diagnosa Keperawatan berhubungan dengan Bagaimana mengidentifikasi kemampuan individu untuk menentukan kebutuhannya dengan atau tanpa bantuan yang turut memperhitungkan kemampuan, keinginan, dan pemgetahuan. Berdasarkan pada data - data yang tersedia, dan analisa terhadap data tersebut, perawat dapat mengidentifikasi secara aktual berbagai masalah, seperti pernafasan yang tidak normal. Sebagai tambahannya, juga masalah-masalah potensial lainnya dapat teridentifikasi.

3. Perencanaan Keperawatan

Setelah diagnosa keperawatan dibuat, maka selanjutnya perawat akan menyusun rencana perawatan. Berdasarkan rencana perawatan ini, Henderson menyatakan: dengan rencana perawatan ini, maka perawatan yang efektif dapat direncanakan lebih baik. Suatu rencana yang tertulis akan mendorong munculnya ide-ide tentang kebutuhan individu, kecuali jika terdapat aturan-aturan lain yang harus dilakukan oleh individu tersebut secara rutin.Tidak terlaksananya perencanaan dapat dipengaruhi oleh anggota keluarga lainnya.

Selanjutnya suatu rencana perawatan membutuhkan modifikasi secara berkesinambungan yang didasarkan pada kebutuhan individu. Henderson menyarankan penulisan rencana perawatan dapat diikuti dengan kebutuhan perawatan secara bertahap. Dia menekankan bahwa perawatan harus selalu disusun sesuai dengan kebutuhan individu, dan rencana terapi dari dokter. Henderson menggaris-bawahi tahap-tahap perencanaan sebagai jalan untuk membuat rencana bagi pemenuhan kebutuhan individu. Perencanaan yang selalu diperbaharui harus didasarkan pada kebutuhan kebutuhan individu tersebut, lebih dispesifikan, dan dapat diimplementasikan, serta disesuaikan dengan adanya terapi medis. Perencanaan perawatan yang ditulis, intinya adalah hasil dari identifikasi kebutuhan perawatan dari individu. Walaupun Henderson tidak menggunakan istilahistilah seperti saat ini, tetapi intinya adalah sama.

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi sesuai dengan perencanaan keperawatan yang dibuat. Bagi Henderson, implementasi keperawatan harus tertuju pada bantuan terhadap kebutuhan pasien sesuai dengan kebutuhan 14 komponen tersebut di atas. Sebagai contoh: dalam membantu individu terhadap kebutuhan istirahat dan tidur, perawat akan mencoba untuk lebih mengetahui metoda-metoda dalam membujuk pasien untuk beristirahat dan tidur sebelum diberikan obat-obatan. Henderson menyimpulkan: “ Saya memandang keperawatan terutama adalah sebagai pelengkap dalam memenuhi kebutuhan pasien melalui pengetahuan, keinginan, dan kekuatan untuk melakukan aktifitas sehari-hari, serta untuk melakukan berbagai tindakan / perlakuan terhadap pasien tersebut sesuai dengan terapi medik”. Dia juga menyatakan, bahwa fungsi utama dari perawat ini tentu saja harus dilakukan untuk mendukung rencana terapi medis, sehingga perawat perlu melakukan tidakan – tindakanyang disarankan medis dalam perawatan. Aspek implementasi penting lainnya dalam pembahasan Henderson adalah hubungan antara perawat dan pasien . Perawat harus menjadi pihak luar yang memahami kebutuhan pasien dan memberikan ukuran-ukuran bagi pemenuhan ukuran tersebut . Henderson juga berbicara mengenai kualitas dari keperawatan; perawat yang berkompeten akan menggunakan proses interpersonal dan prediksi-prediksi selama memberikan perawatan .

5. Evaluasi Keperawatan

Henderson mendasarkan evaluasi terhadap setiap perawat didasarkan pada kecepatan atau derajatnya dalam mendorong kegiatan pasien secara independent kembali seperti hari-hari normal .

Hal ini disebutkan dalam definisi dan fungsi yang unik dari perawat. Untuk tujuan evaluasi, perubahan pada level fungsi kebutuhan individu juga harus diamati dan diperhitungkan . Sebuah data perbandingan mengenai kemampuan fungsional individu dilakukan sebelum dan sesudah proses perwatan . Semua perubahan akan dicatat untuk dievalusi . Untuk menyimpulkan proses perawatan yang diaplikasikan dalam definisi Handerson mengenai keperawatan dan 14 komponen dasar dari keperawatan , mengacu pada tabel di bawah ini :

Proses keperawatan 14 (Empat belas) komponen Henderson dan definisi keperawatan

Pengkajian keperawatan Pengkajian kebutuhan manusia didasarkan pada 14 komponen dasar keperawatan

1. bernafas secara normal

2. makan dan minum yang mencukupi

3. Eliminasi

4. Gerak dan kethana tubuh

5. tidur dan istirahat

6. meilih pakaian yang tepat

7. suhu tubuh

8. kebe sihan tubuh dan kerapihan

9. Menjaga lingkungan

10. Komunikasi

11.beribadah sesuai dengan satu kepercayaan

12.Prestasi pekerjaan

13.rekreasi

14. belajar, mengethui, memenuhi rasa ingin tahu

Diagnosa keperawatan Analisa : menghubungkan data dengan ilmu dasar dari kesehatan dan penyakit .Mengindentifikasi kemampuan individual untuk memenuhi kebutuhannya dengan atau tanpa bantuan, memberi perhtian pada kemampuan, keilmuan dan pengetahuan.

Rencana keperawatan Merkomendasikan bagaimana cara perawat dalam membantu individu yang sakit ataupun yang sehat .

Implementasi keperawatan Membantu individu yang sehat maupun yang sakit dalam menampilkan aktifitas untuk pemenuhan kebutuhan yang dapat maningkatkan kesehatan, pulih dari penyakit atau membantu meninggal dalam kedamaian. Implementasi didasarkan pada prinsif psikologi, usia, latar belakang budaya, control emosi, kemampuan fisik dan intelektual. Memberi resep yang telah ditentukan oleh dokter. Evaluasi Keperawata Menerapkan definisi keperawatan yang telah diterima dan menghu -bungkan standar yang tepat dengan praktek keperawatan. Kualitas pelayanan secara drastis dipengaruhi oleh ketersediaan dan kemampuan yang dimiliki oleh personel keperawatan dibandingkan dengan jumlah waktu perawatan. Hasil yang baik dari proses keperawatan didasarkan pada cepat lambatnya seorang pasien menunjukan kemampuan secara mandiri dalam melakukan aktivitas pemenuhan kebutuha sehari - hari.

D. Hubungan Teori Virginia Henderson dengan Ciri Teori

1. Teori dapat berhubungan dengan konsep sebagai suatu cara untuk membuat titik pandang yangberbeda pada fakta yang terjadi:

Henderson menggunakan konsep berdasarkan kebutuhan dasar manusia, biopsikologi, budaya dan komunikasi dalam berinteraksi. Pentingnya keseimbangan psikologi dan psikologikal dalam membuat keputusan tentang peleyanan keperawatan, konsep budaya yang mempengaruhi kebukebutuhan manusia dipelajari dari keluarga dan kelompok sosial lainnya. Perawat dapat membantu individu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Konsep komunikasi; kepekaan akan komukasi non verbal dapat membantu mengekspresikan keinginan yang akan disampaikan. Disamping itu suasana hati yang damai juga sebagai syarat untuk dapat membantu memenuhi kebutuhan pasien untuk dapat menjalin hubungan baik antara pasien dengan perawat.

2. Teori harus logis secara umum:

Definisi dari teori Handerson adalah logis. Perawat membantu individu dalam menampilkanaktivitas yang mendukung kesehatan., masa pemulihan, meniggal dengan damai dan dapatmenciptakan dengan kemandirian secepat mungkin. Keempat belas komponen tersebut merupakan petunjuk bagi individu dan perawat dalam menapai tujuan yang dipilih . Komponen tersebut diawali oleh fungsi phisiologi dan kemudian aspek psikososial yang dapat menyampaikan bagainana keadaan jasmani yan merupakan hal utama pada emosi dan status kesadaran.

3. Teori harus relatif sederhana secara umum:

Teori Henderson relatif sederhana secara umum dengan batasan yang sama. Karyanya dapat diterapkan pada kesehatan individu dari segala usia, dan perawatan bermanfaat untuk berbagai tingkatan dan berbagai budaya. Selain itu Henderson menganjurkan untuk melakukan penelitian dalam keperawatan.

4. Dengan teori , seseorang dapat menyumbangkan dan membantu dalam meningkatkan segala Ilmu pengetahuan dengan berbagai disiplin melalui penerapan penelitian untuk pengesahannya. Pemikiran Henderson tentang praktik keperawatan diterima dengan baik oleh seluruh dunia sebagai dasar pemberian pelayanan perawatan.

5. Teori dapat dimanfaatkan oleh praktisi keperawatan sebagai pedoman, dan untuk meningkatkan kemampuan praktik mereka:

Secara teori perawat harus memperbaiki praktik keperawatan dengan menggunakan pengertian Henderson, serta ke 14 komponennya untuk meningkatkan kesehatan individu, dan pemulihan dari penyakit. Hasil akhir yang diharapkan akan menjadi ukuran dari angka kesembuhan, peningkatan, dan pemeliharaan kesehatan, serta meninggal dengan damai.

6. Teori harus konsisten dengan teori, hukum, dan prinsip yang sah, tetapi akan meninggalkan pertanyaan terbuka yang tidak terjawab, dan dibutuhkan untuk diteliti. Konsep kebutuhan dasar manusia, budaya, kemandirian, dan komunikasi dalam berinteraksi sangat banyak dipertanyakan oleh peneliti keperawatan, dan juga di bidang soaial, serta psikologi.

Perawat harus menerapkan responsibilitas dalam melakukan investigasi pada praktik keperawatan.

Tujuan selanjutnya harus tergambarkan pada ukuran dari kondisi kesejahteraan konsumen, kepuasan, dan rasa memiliki.

E. Penerapan Teori Virginia Henderson

Penerapan proses keperawatan dalam kehidupan sehari-hari menggunakan empat tahap :

1. Pengkajian

Pada pengkajian ditekankan dalam hal “ Apakah klien mampu atau tidak mampu melaksanakansetiap aspek hidup sehari-hari pasien? “. Saat pengkajian perawat dan pasien mendiskusikan dan mengindentifikasi setiap aktifitas hidup sehar - hari, pasien yang mampu dilaksanakan sendiri.

Apabila ditemukan adanya ketidak mampuan pasien di dalam melaksanakan aktifitas hidup sehari - hari , berarti pasien, memerlukan bantuan dari perawat .Aspek – aspek yang perlu dikaji pada aktifitas hidup sehari-hari adalah sebagai berikut :

a. Mempertahankan lingkingan yang adekuat .

Mengkaji kemampuan pasien dalam melakukuan keaman dan pencegahan pada saat melaksanakan aktifitas hidup sehari –hari , termasuk faktor lingkungan , faktor sensori, serta faktor psikososial .

b. Komunikasi

Melalui komunikasi antar perawat , pasien dan keluarga dapat dikaji mengenai pola komunikasi dan interaksi sosial pasien dengan cara mengidentifikasi kemampuan pasien dalam berkomunikasi,

apakah ada kesulitan dalam berbicara, dalam mendengar dan mengerti pembicaraan orang lain.

c Bernafas

Yang perlu dikaji antara lain kemampuan pasien dalam melakukan ekspirasi dan inspirasi.

Apakah menggunakan otot-otot pernafasan, bagaimana frekuensi pernafasan, pengukuran tidal volume dan warna mukosa.

d Makan dan minum.

Mengkaji tentang kemampuan pasien dalam memenuhi kebutuhan makan dan minum, tentang prilaku makan dan minum, kemampuan menetukan makan dan minum yang memenuhi syarat kesehatan, kemampuan memasak dan menyiapkan makanan sendiri.

e Eliminasi .

Mengkaji kemampuan BAB / BAK serta fungsi dari organ -organ tersebut dan bagaimana pasien mempertahankan fungsi normal dari BAB / BAK .

f. Kebersihan diri dan berpakaian .

Mengkaji apakah ada kesulitan dalam memelihara kebersihan dirinya , mengidentifikasi kulit, rambut, kuku, telinga dan hidung.

g Memelihara temperatur tubuh.

Mengkaji pasien dalam hal mempertahankan suhu tubuh tetap normal.

h Pergerakan/mobilisasi .

Mengkaji kemamppuan aktifitas dan mobilitas kehidupan klien sehari-hari .

i Bekerja dan bermain.

Mengkaji pekerjaan pasien saat ini atau pekerjaan yang lalu , mengkaji kemampuan aktifitas rekreasi dan relaksasi ( jenis kegiatan dan frekuensinya ).

j Seksual.

Mengkaji kemampuan pasien dalam melaksanakan aktifitas seksual, kemampuan dalam mengekspresikan identitas dirinya (maskulin/feminim ).

k Tidur.

Mengkaji kemapuan pasien dalam pemenuhan kebutuhan tidur ( pola, jumlah, kualitas tidur ).

l Terminal/kematian (menghadapi sakaratul maut)

Mengkaji kesiapan klien dalam menghadapi kematian (harapan, perasaan).

2. Perencanaan .

Dalam perencanaan lebih difokuskan kepada rencana tindakan keperawaan yang bertujuan agar pasien mandiri dalam melaksanakan aktifitas hidup sehari-hari.

3. Pelaksanaan.

Melaksanakan apa yang telah direncanakan dan mengindentifikasi kembali apakah masih ada aspek - aspek tindakan keperawatan yang belum dapat mencapai tujuan yang diharapkan sesuai dengan perencanaan.

4 Evaluasi.

Untuk mengukur hasil asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan dengan mengacu kepada tujuan yang telah ditentukan .

BAB III

KESIMPULAN

Ide dasar dari pelayanan keperawatan Henderson adalah pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia, dan aspek fisik, serta emosional dari individu. Konsep umum holistik dari tubuh manusia tidak secara nyata muncul pada tulisannya. Bagaimanapun kita harus berfikir bahwa Henderson telah menuliskan pemikirannya sebelum konsep holistik muncul.

Keempat belas komponen adalah hal yang menjadi prioritas, hubungan antara komponen tersebut tidak jelas. Pada dasarnya Henderson telah membagi beberapa keyakinan penerapan holistik daloam keperawatan.

Hendersn menjelaskan bahwa perawat harus mempertimbangkan beberapa hal misalnya usia,temparemen, temperamen, status sosial atau budaya, kemampuan fisik dan intelektual dalam penggunaan komponen, hal itu diterapkan pada setiap individu yang berbeda.

Kenyataan dari Henderson, usahanya untuk mendefinisikan perkembangan keperawatan sebelum pembahasan dari teori untuk teori.munculnya profesi; walaupun demikian sedikitnya teori dalam pengertian dasar. Semangatnya untuk membawa kemajuan dalam profesi dan pertanggung jawaban, serta kepadsa masyarakat.Menyoroti saat Henderson menerbitkan buku yang berisi tentang Pengertian Keperawatan, dia mendapatkan keuntungan sebagai pelopor dalam pengembangan praktik keperawatan, pendidikan, dan izin praktik keperawatan. Hasil karyanya dipertimbangkan sebagai awal bangkitnya dunia keperawatan dan pendorong keperawatan menuju jenjang pendidikan tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Ø Tomey, M.A. 1994. Nursing Theorist and Their Work. St. Louis : Msby Company

Ø Erickson, H. C., Tomlin, E. M., and Swain, M.A.P. 2000. Modeling and Role Modeling :

Ø A Theory and paradigm for nursing.Fifth edition. Englewood Cliffs, NJ: Prentice –

Ø Hall